Perbedaan Budaya & Kepribadian Yang Mempengaruhi Kerja Tim

Tempat kerja adalah lingkungan dinamis yang sering berubah. Baik itu orang, proses, pasar, atau produk, sering kali ada perubahan yang harus dihadapi karyawan. Sementara beberapa karyawan bekerja dengan tim yang sama untuk jangka waktu yang lama, kemungkinan besar anggota tim baru akan datang dan pergi karena kebutuhan bisnis berubah.

Namun, tidak semua karyawan memiliki latar belakang budaya atau ciri kepribadian yang sama, sehingga sulit untuk bergaul dengan semua orang dan berfungsi secara efektif sebagai tim yang produktif. Akibatnya, penting untuk memahami perbedaan antara anggota tim dan mengetahui cara mengatasinya untuk mencapai tujuan bisnis.

Keanekaragaman Budaya dan Kerja Sama Tim

Masyarakat menjadi semakin mengglobal, yang berarti bahwa karyawan sering bekerja dengan orang dari berbagai negara, agama, budaya, dan latar belakang. Keragaman ini memberi tempat kerja perspektif dan peluang yang unik, karena karyawan dapat membawa ide dan proses baru ke meja yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya di perusahaan. Namun, terkadang perbedaan budaya juga dapat menimbulkan tantangan kerja tim.

Menurut Future Learn, penting untuk memahami perbedaan untuk menumbuhkan keharmonisan dalam tim. Perbedaan budaya memengaruhi kerja tim sebagai hasil dari tiga bidang utama:

  • Gaya komunikasi: Di beberapa budaya, berbicara langsung dianggap tidak sopan, sedangkan di budaya lain dianjurkan. Ini dapat menyebabkan miskomunikasi, kebencian dan kebingungan. Beberapa anggota tim mungkin tidak angkat bicara jika mereka tidak setuju dengan anggota tim lain karena itu bukan sesuatu yang dilakukan dalam budaya mereka. Dalam kasus lain, memberikan umpan balik atau instruksi langsung dapat dianggap melangkahi atau mengambil terlalu banyak otoritas.
  • Hierarki dan kekuasaan: Kesetaraan di tempat kerja adalah norma di beberapa budaya, sedangkan di budaya lain strukturnya lebih hierarkis. Bagi karyawan yang berasal dari budaya yang berfokus pada status dan otoritas, membicarakan masalah mungkin sulit karena mereka merasa tidak nyaman atau tidak sopan. Di sisi lain, mereka yang menghargai kesetaraan mungkin menganggap orang lain kurang kompeten jika mereka tidak berbagi pemikiran dan pendapat dengan kepemimpinan.
  • Risiko dan pengambilan keputusan: Dalam beberapa budaya, membuat keputusan membutuhkan lebih banyak data dan informasi daripada yang lain. Beberapa karyawan mungkin memiliki toleransi yang rendah terhadap risiko dan tidak ingin berkomitmen untuk membuat keputusan tanpa konteks atau detail. Orang lain mungkin percaya diri dalam membuat keputusan tanpa banyak data. Ini dapat mempengaruhi kecepatan tim dan bagaimana pekerjaan dilakukan.

Lima Besar Sifat Kepribadian dan Prestasi Kerja

Terkadang, karyawan dapat berasal dari latar belakang budaya yang sama tetapi masih memiliki banyak perbedaan yang harus dihadapi di tempat kerja. Seringkali, ciri kepribadian karyawan memengaruhi cara mereka bekerja dengan orang lain. Psikolog telah memecah ciri-ciri kepribadian menjadi lima kategori utama, yang masing-masing beroperasi pada sebuah kontinum, menurut Simply Psychology. Kepribadian dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat Anda dibesarkan dan tinggal, serta susunan genetik seseorang. Faktanya, sekitar setengah dari kepribadian Anda diwarisi dari orang tua Anda.

Mari kita gambarkan ciri-ciri kepribadian "Lima Besar" dan bagaimana mereka berkontribusi pada kinerja karyawan:

  • Conscientiousness: Seorang karyawan yang sangat teliti diatur dengan baik, berorientasi pada detail, dan bijaksana terhadap rekan satu tim mereka. Di sisi lain, seorang karyawan yang mendapat skor rendah pada skala teliti akan mengalami kesulitan bekerja dalam tim karena mereka tidak pandai menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan. Mereka juga akan kesulitan mengendalikan impuls mereka.
  • Agreeableness: Karyawan yang sangat ramah bersimpati terhadap orang lain dan menunjukkan empati. Mereka mudah dipercaya dan bekerja dengan baik dengan orang lain. Sebaliknya, seorang karyawan yang tidak menyenangkan tidak peduli bagaimana perasaan rekan satu timnya. Mereka bisa menuntut dan sangat keras kepala, yang membuat kerja tim menjadi sulit.
  • Neuroticism: Ini berkaitan dengan stabilitas emosional seseorang secara keseluruhan. Mereka yang mendapat skor rendah pada neurotisme tenang, terkumpul dan ulet. Mereka membantu membawa tim melewati masa-masa sulit. Di sisi lain, karyawan yang mendapat skor tinggi pada neurotisme merasa cemas, memiliki kecenderungan bermusuhan dan sering stres.
  • Keterbukaan: Keingintahuan adalah bagian penting dari keterbukaan, serta berpikir di luar kotak. Ini memungkinkan karyawan untuk memberikan ide-ide inovatif kepada rekan satu tim mereka. Karyawan yang mendapat skor rendah pada keterbukaan lebih menyukai rutinitas dan tidak menyukai perubahan. Mereka berkembang pesat dalam struktur dan keteraturan.
  • Ekstroversi: Karyawan yang mendapat skor rendah dalam ekstroversi adalah pendengar yang baik, yang merupakan ciri utama seseorang yang unggul dalam kerja tim. Namun, mereka juga pendiam dan kelelahan karena terlalu banyak bersosialisasi. Di sisi lain, ekstrovert berkembang dengan interaksi sosial, meskipun mereka bisa menjadi pencari perhatian.

Membangun Tim yang Efektif

Jika Anda memiliki departemen atau tim berbeda dalam bisnis Anda, atau mempekerjakan karyawan untuk bekerja sebagai bagian dari tim, penting untuk memastikan Anda menyatukan orang yang tepat. Meskipun bijaksana untuk berfokus pada keterampilan, pendidikan, dan pengalaman unik setiap karyawan, Anda juga harus mempertimbangkan perbedaan budaya dan kepribadian mereka. Jika tidak, Anda mungkin akan berakhir dengan tim disfungsional yang tidak cocok dan tidak mampu memenuhi tujuan yang telah Anda tetapkan untuk mereka.

Menurut Harvard Business Review, yang terbaik adalah mengembangkan tim karyawan yang memiliki peran yang seimbang. Jika tidak, akan ada konflik dan ketidaksepakatan. Terlepas dari budaya atau kepribadian, Harvard Business Review merekomendasikan memiliki anggota tim yang dapat memainkan peran berikut: berorientasi pada hasil, fokus pada hubungan, fokus pada proses, pemikir inovatif, serta pragmatis dan praktis. Jika tim Anda terlalu mengandalkan salah satu peran ini, mereka akan kesulitan memenuhi tujuan mereka. Demikian pula, jika tim kehilangan salah satu peran ini, mereka mungkin tidak dapat menyelesaikan tugas apa pun.

Misalnya, jika sebuah tim tidak memiliki peran yang berfokus pada proses, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam membuat jadwal dan menaatinya. Jika mereka tidak memiliki peran yang berfokus pada hubungan, mereka mungkin tidak dapat menyelesaikan konflik atau bernegosiasi secara efektif. Meskipun tim hanya terdiri dari dua atau tiga orang, penting untuk memastikan bahwa setiap karyawan dapat mengambil banyak peran agar dapat bekerja sama secara efektif.

Mengatasi Perbedaan untuk Meningkatkan Kinerja

Lima Besar ciri kepribadian dan kinerja pekerjaan sebagai sebuah tim berkorelasi erat. Demikian pula, keragaman budaya juga mempengaruhi produktivitas dan efisiensi dalam tim. Untuk mengatasi perbedaan ini dan mengatasi tantangan, penting bagi setiap tim untuk memiliki pemimpin yang kuat. Menurut Talking Talent, mengembangkan tim yang efektif dimulai dengan kepemimpinan yang efektif. Pemimpin tim dan manajer perlu membimbing karyawan mereka dengan visi gambaran besar yang menginspirasi, sekaligus mendelegasikan tanggung jawab kepada orang yang tepat. Artinya pemimpin perlu memahami kekuatan, kelemahan dan kepentingan masing-masing anggota timnya.

Menurut Jostle, salah satu cara terpenting untuk bekerja dengan orang lain dalam tim adalah dengan mengakui perbedaan mereka dan mencapai pemahaman. Ketidaksepakatan adalah kesempatan untuk belajar sesuatu dari rekan kerja dan melakukan diskusi terbuka seputar tantangan yang dialami karyawan. Pastikan untuk menghargai perbedaan anggota tim dan bagaimana mereka memberikan perspektif baru, dan tunjukkan kepada mereka bahwa mungkin untuk bekerja sama sambil berkomunikasi secara efektif dan berfokus pada tujuan bisnis.

Jangan lupa untuk merayakan pencapaian tim Anda. Akui rintangan yang harus mereka daki setiap minggu bersama-sama dan tunjukkan berbagai cara mereka berhasil. Ini menunjukkan kepada mereka hal-hal yang mereka pelajari tentang budaya dan ciri kepribadian satu sama lain, dan bagaimana mereka dapat mendekati perbedaan ini saat perselisihan muncul lagi.